• Isra Mi’raj

    PASTIKAN BACAAN KAMU BERMANFAAT

    (Oleh: Retno Kartikawati/ ITSL 45/ Dept. SDM LDK Al-Hurriyyah IPB)

     

    Judul tulisan ini sebenarnya bukanlah perwakilan dari isi tulisan, melainkan perwakilan dari harapan saya untuk kita semua para pembaca. Insya Allah tulisan ini termasuk kategori yang bermanfaat. So, dibaca sampai selesai ya? ^^b

     

     

    Sahabat Al-Hurriyyah,

    Pada tanggal 27 Rajab 1433 H atau bertepatan dengan tanggal 17 Juni 2012, kita sebagai umat Muslim diingatkan kembali pada peristiwa besar dalam sejarah umat Islam. Peristiwa dipertemukannya manusia dengan Penciptanya secara langsung yang dianugrahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Peristiwa ini menjadi momen yang sangat penting dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW bahkan bagi seluruh umat manusia. Di malam yang syahdu itu, beliau  diperjalankan dalam keadaan terjaga dan tidak tidur, dari Masjidil Haram Makkah ke Baitul Maqdis (isra) bersama malaikat Jibril mengendarai Buraq. Lalu dilanjutkan dengan perjalanan (mi’raj) dari Baitul Maqdis menuju ke Sidratul Muntaha. Ketika di Sidratul Muntaha-lah Allah SWT menurunkan kewajiban mengerjakan shalat lima puluh kali hingga akhirnya diringankan hingga lima kali saja dalam satu hari satu malam kepada manusia. Peristiwa ini telah berbicara pada kita, bahwa ibadah sholat menempati posisi yang sangat penting dalam agama Islam.

     

     

    Sahabat Al Hurriyyah,

    Keringanan solat lima puluh waktu menjadi lima kali saja dalam sehari semalam sungguh telah memudahkan kita. Namun begitu, ternyata masih ada saja yang menganggap kewajiban ini berat untuk ditunaikan. Sehingga, tidak jarang kita saksikan orang yang shalat lima waktunya “bolong-bolong” dengan alasan yang dibuat-buat. Padahal  shalat itu merupakan identitas keislaman yang membedakan dirinya dengan nonmuslim. Terlebih shalat adalah  tolak ukur kepatuhan seorang hamba pada TuhanNya.

    Allah sangat mencintai shalat hambaNya yang dilaksanakan dengan sempurna. Solat yang menghadirkan seluruh jiwa dan raga dengan penuh kekhusyukan. Rasulullah SAW menjadikannya sebagai penjaga darah dan harta, sehingga kapan seseorang meninggalkannya maka darah dan hartanya akan terancam. Karena sangat pentingnya shalat ini, sampai-sampai di hari kiamat sholat merupakan amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba. Seperti yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW dalam hadits Ibnu Mas’ud secara marfu’ disebutkan:

    “Amalan pertama yang dengannya seorang hamba dihisab adalah shalat dan sesuatu pertama yang diputuskan di antara para manusia adalah mengenai darah.” (HR. An-Nasai no. 3926)

     

    Dalam kalam Illahi  surah Al Ankabut ayat 45 menyebutkan bahwa Sesungguhnya shalat itu akan mencegah perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar keutamaan dari ibadah lainnya. Dari ayat tersebut dapat kita petik bahwa seharusnya, dengan mengerjakan shalat, seorang hamba tidak akan melakukan kekejian dan kemungkaran. Karena Shalat mencakup pula upaya mengingat Allah SWT , itulah tujuan yang paling besar. Seluruh hati serta fikirannya telah terpenuhi dengan mengingat Allah sehingga tidak ada tempat bagi kemaksiatan untuk terlintas dalam benaknya.

     

     

    Sahabat Al Hurriyyah,

    Namun, pada faktanya  banyak diantara umat Islam yang shalat namun tetap saja mengerjakan kejahatan, kezaliman dan  perbuatan tercela lainnya. Tujuan sholat mencegah diri manusia dari perbuatan keji dan munkar, maka apabila seseorang itu melakukan perbuatan keji dan mungkar artinya belum tercapai tujuan sholatnya. Karena bisa jadi seseorang solat tanpa sebuah pemaknaan, hanya raganya yang merendah sujud, tapi kesombongan tetap ia pelihara dalam hatinya. Hanya lidahnya yang berucap, namun maknanya tidak ia pahami. Kalau seperti ini, pantaslah seseorang shalat namun tidak memberikan manfaat apapun pada dirinya.  Alangkah baiknya tiga hal pokok dalam shalat  yaitu ikhlas, khasy-yah (rasa takut), dan mengingat Allah senantiasa terpenuhi dalam melakukan sholat. Ikhlas memerintahkan pada yang ma’ruf, khasy-yah mencegah dari yang mungkar, dan mengingat Allah adalah Al Qur’an  yang memerintah dan melarangnya. Ketiga hal pokok tersebut merupakan nilai dalam sholat dan terimplementasikan dalam kehidupan sehari hari. Sehingga nilai nilai shalat itu menginternalisasi dalam diri kita.

     

     

    Mau makan ingat Allah, mau naik angkot ingat Allah, saat kuis ingat Allah, mau rapat ingat Allah, mau bolos kuliah ingat Allah, mau korupsi  ingat Allah, mau apapun selalu ingat Allah. Sahabat, ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan. Yuk, pelihara solat kita ^^b

     

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS al-Isra’ [17]: 1).

    Sumber: Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 dan 4 ; Riyadhus Shalihin

Leave a Reply