• Pemuda dan Kebangkitan

     “Cukup sudah negeri ini tersayat oleh keterpurukan, tak kan ada lagi kata kemaksiatan, hujatan, dan  cukup sudah negeri ini luluh lantak oleh tangan-tangan pragmatis…Hari ini, Ibu Pertiwi akan tersenyum, menyaksikan pemuda-pemuda yang dikandung rahimnya tumbuh dengan membawa segenggam harapan, harapan perubahan dan bangkitnya tonggak  peradaban! Sejahtera dalam kekuatan;sejahtera dalam ke-madani-an. Pemuda adalah nakhoda, agent of change, konstruktor peradaban, pelopor kebangkitan. Ku yakin telingamu sudah sangat akrab dengan kalimat-kalimat seruan semacam itu. Namun kawan, jika ku cerna dan coba ku terjemahkan arti kebangkitan, merefleksikannya dengan kondisi negeriku saat ini, semakin tidak percaya betapa pahitnya  kebangkitan itu. Gamang ku katakan,  adakah hal lain yang lebih pahit dari yang namanya kebangkitan?   Apakah ini yang namanya  kebangkitan hakiki, ataukah hanya jargon-jargon yag menjadi sampul kesengsaraan?
    Aku tidak tahu sudah berapa lapis generasi pemuda yang mewarisi kebangkitan semacam ini. Namun dikala estafet ini bergilir ke generasiku, membuatku sadar bahwa sangat banyak yang harus dibenahi. Saat ini aku berani menjamin, kalau tujuan estafet kebangkitan ini tidak akan bisa tercapai hanya dengan “berkritis ria”, hujat sana-sini tanpa berbuat apa-apa. Terlebih lagi jika aku dan kamu hanya diam berpangku tangan kawan. Aku berani jamin , kebangkitan ini hanya aka menjadi isapan jempol belaka, tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.

    Bukan aku berbicara kosong tentang arti kebangkitan yang kososng,  tapi data-data konkret tersebar di sekelilingku dan di sekelilingmu. Mereka hidup, dan mereka pun berbicara kebangkitan. Inilah meraka:

     

    Acap kali aku melintas dari arah timur sudut kampusku. Setiap hari pula, terulur salam [plus] kaleng perak berkarat yang disuguhkan seorang nenek berpenutup kepala  lusuh,   berdiri di tepi jalan tak kenal terik sambil berharap ada satu-dua orang yang menyisihkan rezeki untuk mengisi kaleng peraknya. Sekali lagi, ia adalah seorang perempuan tua yang ku taksir umurnya tidak lebih muda dari 60 tahun-an.

     

    Selasa, Maret 2011. Di terminal, Aku bersama sahabatku sedang menunggu barang titipan yang tak kunjung diantar. Tiba-tiba  seorang wanita paruh baya yang membawa tas hitam menghampiri kami berdua. Wanita tersebut menjelaskan perihal dirinya yang baru saja kecopetan. Wanita tersebut kemudian meyakinkan kami berkali-kali dan memohon  belas kasihan untuk memberikan uang 5 ribu rupiah agar dirinya bisa pulang. Tidak mau berlama-lama dan memang dihampiri rasa iba, temanku pun memberikan sesuai tuntutan sang wanita. Belum berselang begitu lama, kami melihat wanita tersebut bukannya pulang, tapi malah melakukan hal yang sama terhadap beberapa orang yang lewat di daerah tersebut, modusnya sama “kecopetan”.

    Hari ini, di negeriku, setiap lembaga yang berdedikasi untuk memberantas korupsi tak hentinya “digoyang”. Tahanan berduit seenaknya keluar-masuk penjara,  malam di bui, siang sudah di Bali.  Si dia yang “sudah terlanjur jadi idola”, mengundang empati meskipun senang berzina. Pak polisi disiplin di kantor, di jalanan “malakin” mahasiswa yang tak berhelm dan tak ber-STNK. Belakangan, bom meledak tak kenal tempat, mulai dari kafe para hedonis hingga masjid para ulama. Pemimpin tak dihormati rakyatnya. Rekruitmen kader negara dalam negara tak kunjung dihentikan, korban pun terus berjatuhan, nyawa dan uang jadi taruhan.

    Itu semua realita kawan, realita kebangkitan. Hanya saja, ini kebangkitan versi siapa? Aku lebih senang menyebutnya ini kebangkitan versi lama. Sudah terlalu lama dan usang. Oleh sebab itu kawan, mari merancang konsep kebangkitan kita yang benar-benar baru. Konsep kebangkitan versi kita, versi generasi muda abad 21:

    “Cukup sudah negeri ini tersayat oleh keterpurukan, tak kan ada lagi kata kemaksiatan, hujatan, dan  cukup sudah negeri ini luluh lantak oleh tanga-tangan pragmatis…Hari ini, Ibu Pertiwi akan tersenyum, menyaksikan pemuda-pemuda yang dikandung rahimnya tumbuh dengan membawa segenggam harapan, harapan perubahan dan bangkitnya tonggak  peradaban! Sejahtera dalam kekuatan; sejahtera dalam ke-madani-an.

    By Iril

Leave a Reply