• Belajar dari Karakter Rosulullah

    Betapa selalu tergugahnya hati ini ketika membaca kisah-kisah  teladan kita Rosulullah saw. Sepenggal kisah yang terbingkai dalam fakta sajarah ketika suatu hari Rosulullah Muhammad s.a.w dan pamannya, Abu Tholib, dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit.
    Ketika itu,  Abu Tholib, seorang  paman  yang sangat menyayangi Rosulullah , didatangi oleh pemuka Quraisy yang datang untuk menyatakan keberangan mereka terhadap apa yang dibawa Rosulullah Muhammad s.a.w. Mereka khawatir karena agama Tauhid yang dibawa Rosulullah Muhammad s.a.w pasti akan  mengancam eksistensi paganisme dan berhala yang mereka agung-agungkan. Oleh sebab itu, pemuka Quraisy pun memberikan penawaran-penawaran agar Rosulullah mau meninggalkan ‘agama baru’ tersebut. Bukan hanya itu, penawaran yang ditawarkan pun disertai dengan ancaman sehingga kondisi ini membuat Abu Tholib dihadapkan kepada dua pilihan yang sulit.

    Prihal kedatangan pemuka Quraisy pun diberitahukan kepada Rosulullah Muhammad saw. Abu Tholib berkata,” wahai keponakanku, sesungguhnya usiaku sudah tua, janganlah engkau susahkan aku dengan urusan-urusan yang sudah tidak sanggup lagi ku pikul”.

    Mendengar detail permasalahan yang disampaikan, rosul merasa berempati, beliau turut merasakan kesusahan yang dirasakan oleh paman yang sangat dicintainya itu. Hingga pada akhirnya, air mata pun tak tertahankan dan mengalir membasahi pipi beliau. Namun, apa yang terucap dari kedua bibir Rosulullah Muhammad s.a.w sangat mengejutkan Abu Tholib. Dengan segenap keempatian dan kelembutan hati, terucaplah sebuah kata-kata indah dari bibir Rosulullah,” Wahai paman, Demi Allah, sekalipun mereka letakkan matahari di pundak kananku dan bulan di pundak kiriku agar aku tinggalkan dakwah ini, niscayalah aku tidak akan meninggalkannya, hingga agama ini tegak atau aku mati karenanya.”

    Kalimat yang sangat indah dan terukur, meskipun hati sedang tergetar hebat dan air mata bercucuran dengan derasnya, namun ketegasan tidak luntur sedikitpun  dari dalam diri beliau. Sebuah kisah keteladanan yang baik dalam hal keteguhan memegang prinsip dari Rosulullah s.a.w yang patut kita teladani. Ketegasan tidak harus diejawantahkan dengan sikap defensive, artinya menutup diri dari kondisi di lapangan. Atau bahkan masih banyak orang yang mengartikan bahwa ketegasan identik dengan amarah. Kisah ini memperkenalkan kepada kita sebuah role model  yang baik dalam konsep ketegasan. Bagaimana ketegasan itu masih bisa bersanding dengan keempatian. Memahami perasaan lawan bicara, susah-senangnya, rela-tidaknya, marah-sedihnya, namun prinsip yang kita pegang tetap membuat kita kuat dan tidak larut dalam keadaan.

    Namun jika kita tilik generasi sekarang ini dengan segala “kecanggihannya”, masih sangat sulit kita temukan orang-orang yang memilki karakter kelembutan hati dengan ketegasan yang tinggi. Karena biasanya yang kita ketahui bahwa dua karakter ini tumbuh berseberangan. Namun, ternyata anggapan itu tidak sepenuhnya benar, karena 14 Abad yang lalu telah ada  sesosok manusia yang memilikinya, yakni Rosulullah Muhammda saw. Semoga kita bisa meneladani  beliau di dalam menghadapi kehidupan ini.

    By Iril

Leave a Reply